Kamis, 16 September 2010

Sang Pencerah

Ahmad Dahlan muda, diusianya yang baru 21 tahun sudah memiliki pemikiran dan pendirian pembaharuan untuk perbaikan dan kemajuan umat. Padahal masa itu adalah masa yang sulit. Masa di mana umat terkungkung dalam kebodohan dan kemiskinan, masa penjajahan kolonial Belanda yang menjajah dan menjarah negeri selama ratusan tahun. Bagaimana dengan kita? Di usia kita?

Sepulang dari Mekah, beliau berpikir bagaimana membebaskan umat dari semua itu, terbebas dari kebodohan dan kemiskinan yang menjadi akar masalahnya. “Bagaimana mungkin membiarkan umat berserakan kalau kita memberikan pemahaman agama yang salah?” itu yang ada dibenaknya.

Perhatikanlah ketika K.H Ahmad Dahlan mencoba mengubah arah Sholat dari sebelumnya ke barat menjadi ke sedikit condong ke arah barat laut secara ilmiah, dengan fakta dan data bukan dengan alasan yang tidak jelas atau dengan pemaksaan apalagi kekerasan (diilustrasikan dalam film “Sang Pencerah”). Karena persoalan inilah beliau dicap sebagai Kyai Kafir dengan alasan mengikuti cara-cara orang kafir. Jadi selama ini umat berkiblat ke barat ke arah Afrika bukan ke Ka’bah di Mekkah. Apakah pada zaman itu tak ada umat Islam yang mengerti ilmu geografi ataukah terlalu mudah dibodohi oleh para penjajah? Sungguh ironi!

Perhatikanlah ketika K.H Ahmad Dahlan mengatasi masalah konflik yang terjadi (diilustrasikan dalam film “Sang Pencerah”). Beliau menjalaninya dengan penuh keberanian dan kesabaran. Berani melantangkan kebenaran yang diyakininya tetapi sabar dalam memperjuangkannya. Sehingga keberanian dan kesabaran itu membuahkan hasil yang dapat dirasakan hingga saat ini.

Perhatikanlah ketika pemuda-pemuda yang menjadi murid K.H Ahmad Dahlan dengan lantang berkata, “Kami berada di depan Kyai!” seraya mengutip sabda Nabi Muhammad S.A.W : “Islam datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (diilustrasikan dalam film “Sang Pencerah”).

Teringat ayat Al Qur-an surat Ash Shoff (61) ayat 14 :

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”….., Begitu pula yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad S.A.W ribuan tahun yang silam.

Perhatikanlah ketika K.H hendak mendirikan perkumpulan Muhammadiyah dengan menyebut ayat Al Qur-an Surat Ali Imron ayat 104 : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” Umat Islam dulu dan saat ini membutuhkan pencerahan dan penjelasan mengenai ajaran agama yang benar yang murni bersumber dari Al Qur-an dan Ash Sunnah. Umat membutuhkan perkumpulan dakwah yang konsisten sesuai dengan ayat di atas.

Perhatikanlah cara K.H Ahmad Dahlan dan murid-muridnya dalam mengatasi masalah pendidikan umat (diilustrasikan dalam film “Sang Pencerah”). Mereka berkeliling kota untuk “merazia” anak-anak miskin dan terlantar, kemudian mengajak anak-anak itu untuk bersekolah. Tetapi sebelumnya anak-anak itu dimandikan terlebih dahulu, dipakaikan baju yang bagus, lalu diberi makan, setelah itu barulah diajak untuk belajar, dibekalkan ilmu dan diberikan alat-alat tulis kepada mereka. Begitulah tahapan dakwah dan pembinaan umat yang beliau jalani memberi makan umat sebelum didakwahi. Tidak serta merta hanya menyeru atau menyuruh, tetapi kongkrit implementasinya, terintegrasi mulai dari A sampai Z. Orang-orang miskin bukan hanya butuh pendidikan yang gratis dan berkualitas, tetapi juga makan yang cukup, pakaian yang layak, kesehatan yang memadai (air bersih untuk mandi), dan sarana lain yang menunjang.

Beliau (K.H Ahmad Dahlan), berkata “Hidup, hidupi Muhammadiyah, bukan mencari hidup dari Muhammadiyah”. Jikalau warga Muhammadiyah memahami ini betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan bagi Muhammadiyah dan pasti akan berimbas pada Umat Islam keseluruhan karena Muhammadiyah adalah salah satu elemen terpenting dari umat ini. Jika umat Islam memahami ini betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan bagi Islam dan umat Islam. Karena kemashlahatan Islam adalah kemashlahatan umat, kemashlahatan umat Islam merupakan kemashlahatan bagi peradaban umat manusia dan bagi seluruh alam, karena Islam bersifat universal, rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam.

0 comments: