Dua diva cantik dari dua negara serumpun, Krisdayanti dari Indonesia dan Siti Nurhaliza dari Malaysia. Pro dan Kontra mengenai kehidupan pribadi keduanya tidak akan diulas dalam tulisan ini, begitu pula dengan perbedaan fisik mereka, tetapi prestasi mereka dalam bentuk olah vokal-lah yang akan dicoba dibahas di sini. CT (Siti) vs KD (Krisdayanti), mana yang lebih hebat?
Sekilas suara dua penyanyi ini mirip, tetapi kalau kita dengar dengan seksama jelas ada perbedaannya. Masing-masing memiliki kelebihan dan keunikan yang tidak dimiliki satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki suara merdu, penampilan yang menarik, dan segudang prestasi. Lagu-lagu mereka meledak di belantara musik Indonesia dan Malaysia, tanpa saling menjatuhkan. Lagu-lagu nya CT hanya cocok dinyanyikan oleh CT dan terasa janggal kalau dinyanyikan oleh KD, sebaliknya juga lagu-lagunya KD hanya enak didengar bila dinyanyikan oleh KD dan terasa janggal kalau dinyanyikan oleh CT. Itu penilaian pertamaku.
Baru-baru ini mereka berdua mengeluarkan album duet pertama mereka bertajuk CTKD (Canda Tangis Ketawa Duka) yang juga berarti gabungan dari inisial mereka CT (Siti) dan KD (Krisdayanti). Album duet yang terdiri dari enam lagu : Amarah, Dalam Diamku, Hanya Dia, Sebagai Teman, Jika Kau tak Datang, dan Tanpamu. Aku bukanlah penggemar berat KD, dan juga bukan peminat berat CT, tetapi setelah mendengarkan lagu-lagu duet mereka sungguh merupakan paduan suara harmoni yang indah. Dari lagu-lagu itu bisa didengar perbedaan olah vokal mereka dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Di nada-nada tinggi, CT mungkin lebih kuat karakternya dibandingkan KD, tetapi di nada-nada rendah KD lebih stabil dan lebih punya karakter. Begitu pula dengan nada melengking (beda dengan nada tinggi), KD tampaknya lebih melengking dibandingkan CT. Tetapi untuk urusan variasi nada tentu CT lebih berwarna karena cengkok melayunya yang kental sedangkan KD datar-datar saja.
Tentunya setelah membandingkan keduanya tidaklah bisa disimpulkan kalau salah satu diantara mereka lebih hebat, karena masing-masing memiliki kelebihan yang saling mengisi dan membentuk paduan nada yang harmoni. KD bukannlah CT dan CT bukanlah KD, keduanya saling mengisi dan melengkapi.
Keharmonian mereka bukan hanya di dunia musik, kabarnya mereka juga menjalin persahabatan. CT sangat menghormati KD apalagi usia KD lebih di atas usianya, lagi pula pengalaman KD di dunia tarik suara otomatis di atas CT, begitu juga sebaliknya KD menghormati CT. Mereka saling menghormati dan saling support.
Model persahabaran CTKD kabarnya juga dilakukan oleh pebulutangkis Taufik Hidayat – Lee Cong Wee. Dua pebulutangkis ini di lapangan adalah musuh bebuyutan, yang saling mengalahkan silih berganti. Tetapi mereka bersahabat di luar lapangan.
Indonesia bukan Malaysia, Malaysia bukan Indonesia, kita serumpun tapi tak sama. Sungguh masing-masing negara memiliki kelebihan yang seharusnya saling mengisi dan melengkapi untuk suatu keharmonian seperti CTKD.
Baru-baru ini mereka berdua mengeluarkan album duet pertama mereka bertajuk CTKD (Canda Tangis Ketawa Duka) yang juga berarti gabungan dari inisial mereka CT (Siti) dan KD (Krisdayanti). Album duet yang terdiri dari enam lagu : Amarah, Dalam Diamku, Hanya Dia, Sebagai Teman, Jika Kau tak Datang, dan Tanpamu. Aku bukanlah penggemar berat KD, dan juga bukan peminat berat CT, tetapi setelah mendengarkan lagu-lagu duet mereka sungguh merupakan paduan suara harmoni yang indah. Dari lagu-lagu itu bisa didengar perbedaan olah vokal mereka dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Di nada-nada tinggi, CT mungkin lebih kuat karakternya dibandingkan KD, tetapi di nada-nada rendah KD lebih stabil dan lebih punya karakter. Begitu pula dengan nada melengking (beda dengan nada tinggi), KD tampaknya lebih melengking dibandingkan CT. Tetapi untuk urusan variasi nada tentu CT lebih berwarna karena cengkok melayunya yang kental sedangkan KD datar-datar saja.
Tentunya setelah membandingkan keduanya tidaklah bisa disimpulkan kalau salah satu diantara mereka lebih hebat, karena masing-masing memiliki kelebihan yang saling mengisi dan membentuk paduan nada yang harmoni. KD bukannlah CT dan CT bukanlah KD, keduanya saling mengisi dan melengkapi.
Keharmonian mereka bukan hanya di dunia musik, kabarnya mereka juga menjalin persahabatan. CT sangat menghormati KD apalagi usia KD lebih di atas usianya, lagi pula pengalaman KD di dunia tarik suara otomatis di atas CT, begitu juga sebaliknya KD menghormati CT. Mereka saling menghormati dan saling support.
Model persahabaran CTKD kabarnya juga dilakukan oleh pebulutangkis Taufik Hidayat – Lee Cong Wee. Dua pebulutangkis ini di lapangan adalah musuh bebuyutan, yang saling mengalahkan silih berganti. Tetapi mereka bersahabat di luar lapangan.
Indonesia bukan Malaysia, Malaysia bukan Indonesia, kita serumpun tapi tak sama. Sungguh masing-masing negara memiliki kelebihan yang seharusnya saling mengisi dan melengkapi untuk suatu keharmonian seperti CTKD.
0 comments:
Poskan Komentar